http://img412.imageshack.us/img412/4403/image15jc7.gif http://img100.imageshack.us/img100/4658/image12du2.gif

KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA

KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA


Ketika tiga orang pemuda sedang berpergian, mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu jatuh dari gunung melewati mulut gua tersebut dan menutupinya. Mereka berkata satu sama lain,
Pikirkanlah perbuatan baik yang pernah engkau lakukan di jalan allah, dan berdo’alah kepada Allah dengan menyertakan perbuatan-perbuatan itu sehingga Allah akan membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi.


Salah satu di antara mereka berkata, Ya Allah! Aku memiliki kedua orangtua yang telah tua renta, dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil yang aku telah memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput ( bagi domba-dombaku ), dan tidak kembali kerumah hingga larut malam dan menemukan kedua orang tuaku sedang tidur. Aku mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka, dan aku pun tidak ingin membangunkan mereka dari ridurnya, dan aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orang tuaku, walaupun anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku.

Maka keaadanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. (Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolonglah bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit. Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.

Kemudian pemuda yang kedua berkata, Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak hingga aku membayarnya hingga seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk diantara kedua kakinya, ia berkata : Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)! Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi engkau semata, maka biarkanlah batu tersebut bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar. Maka Allah menggeser batu tersebut untuk menjadi lubang yang lebih besar.

Dan pemuda yang terakhir (ketiga) berkata, Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu Faraq beras, dan ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah, tetapi ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menyerah dan menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga produksi, beberapa ekor sapi, dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata : (Wahai hamba Allah!) takutlah kepada Allah, dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku. Aku berkata (padanya): Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya. Maka ia pun mengambilnya dan pergi. (Maka, Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari abtu tersebut.

Maka kemudian Allah membebaskan mereka (dari kesulitannya) dan seluruhnya dari mulut gua tersebut.

Cahaya hikmah, edisi 07/2007

read more “KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA”

ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI

ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI

Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu raja, ia selalu berkata, ”orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”


Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja. ”Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia bertemu raja,” pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang. Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, ”Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tantang kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk.” Raja terdiam.

Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, ”Kemarilah, singgahlah kerumahku.”

Setelah temannya singgah kerumahnya, si pendengki menawarkan bawang merah dan bawang putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa, ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau bawang merah dan bawang putih itu tentu tidak mudah hilang.

Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan dengan raja, ia menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya. ”Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggqap mulutku bau,” pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat. Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”

Setelah merasa waktu berkunjungnya cukup, ia kemudian pamit kepada raja. Raja berkata, ”Bawalah surat ini dan serahkanlah pada fulan.” Surat itu berisi, ”Jika sampai kepadamu pembawa surat ini, maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami.”

Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang oleh si pendengki.

”Apa yang kamu bawa?” tanyanya. ”Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali dalam urusan pembagian hadiah.” ”Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang,” pintanya.

Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasiha, surat itu kemudian di serahkan kepada si pendengki. Si pendengki menerimanya dengan senag hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja. ”Masuklah kesini, raja menyuruhku membunuhmu,” kata teman raja. ”Yang dimaksudkan bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan,” katanya ketakutan. ”Perintah raja tak bisa ditunda,” kata teman raja. Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan jerami.

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki.

”Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak mencium bau tidak sedap dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia menemuiku dan menanyakan titipanmu,” kemudian lelaki itu menceritakan semua yang terjadi.

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu dengki kepada sahabatnay. ”Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan iru sebagai balasannya.”

Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri. Dengki itu merusak amal Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar. (HR Ibnu Majah)

Kedengkian seseorang hanya akan berakinat buruk bagi orang itu sendiri.

Cahaya hikmah, edisi 07/2007

read more “ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI”

Bukan Dua Kaki


Bukan Dua Kaki

Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panic. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al-Quds. Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.

Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas pasti actual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustadz Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatic terhadap satu pendapat tertentu.

“Shofa belum pulang?” sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar. Shofamenoleh, “Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak.” “Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya pentingtuh!”

“Sekarang Bu?”

“Ya, kalau Shofa sedang tidak repot.”

Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Raif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan dikompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan. “Wa’alaikum salam,” jawab Pak Arif dari dalam. “Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?”

“Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan.” Jawab Shofa. “Bagus! Bagus! Alhamdulillah.” Kata Pak Arif. “Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain”

Pak arif terdiam. “Begini nak Shofa……. Apakah nak Shofa sudah siap menikah?”

Shofa tersenyum. “Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi…… belum ada jodohnya.” “Hmmmm…… Begitu ya,” Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. “Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia.”

“Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?” Tanya Shofa tersipu.

“Lho…. Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang shalehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia shaleh dan berakhlak baik. Nah…. Kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?” jelas Pak Arif.

“Iya…. Iya!” Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.

“Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan Shofa,” Pak Arif melanjutkan. “Bagaimana nak Shofa?”

“Bapak ini kok langsung main Tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana,”tukas Bu Arif

“Wah…….Dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur’an.”

“Hafidz Qur’an?” gumam Shofa dalam hati. Salah satu do’a yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur’an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi Hafidzhah. “Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds,” papar Pak Arif. “Radio Al-Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho pak. Namanya siapa pak,mungkin saja saya pernah mendengar, :kata Shofa. “Namanya Hanif Ibrahim.”

Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempatdirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausiyah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.

Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. “Ada apa Shofa?” “Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio.”

“Nah…. Jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun Cuma dari radio, “Pak Arif terkekeh. “Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu Hanif?” “Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini,” jawab Shofa. “Ohhh….. ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah ibumu bilang, kami disuruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok,” ujar Pak Arif.

Sepulangnya dari rumah kedua orangtua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. “Benarkah Ustadz Hanif jodohku?” tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat.

Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.

“Assalamu’alaikum,” Shofa mengucap salam di depan pintu. “Wa’alaikumussalam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif,” jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri shalehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.

Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena terbentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda sambil tersenyum. Shofa terhenyak, memandang tak percaya. “Inilah Ustadz Hanif?” Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri.

“Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu,” kata Pak Arif memecah kesunyian.

“Assalamu’alaikum dik Shofa,” kata Hanif. “Wa’alaikumssalam,” jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.

“Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma….. memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan.. mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi.

Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja.” Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.

Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas kea rah Hanif. “Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya.” Bathin Shofa.

“Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri.”

Shofa diam tak bergeming. Di hadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, shaleh, berakhalak muloia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur’an. Bukanlah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.

“Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?” Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.

Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan batinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. “Saya sudah shalat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan ustadz Hanif.” “Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab,” kata Hanif.

“Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?” Tanya Shofa. Hanif tersenyum. “Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah, dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik.” Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar. “Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki.” “Alhamdulillah!” berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.

Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati.

Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, “Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami.”

Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. “Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?” Tanya Shofa.

“Boleh. Apa itu?” Hanif tersenyum lebar. “Shofa cinta Kak Hanif karena Allah,” Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.

“Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah.” Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. “Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!” Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.

“Ayo kita shalat dulu,” kata Hanif. “Shofa Bantu kak Hanif wudhu ya,” Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.

Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaanNya.

Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda hingga syahidnya.

Cahaya Hikmah, edisi 22/2008

read more “Bukan Dua Kaki”

INDAHNYA MENAHAN MARAH


INDAHNYA MENAHAN MARAH

“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.”

(HR. Abu Dawud At-Tirmidzi)

Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan mana’wiyah (keimanan) seseorang.

Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada. Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi SAW. Dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik padamu. “Badwi itu berkata, “Pemberianmu tidak bagus.” Para sahabat merasa tersinggung lalu ngerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar. Kemudian, Nabi SAW. Pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik padamu?” Badwi berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat.”

Keesokan harinya, Rasulullah SAW. Bersabda kepada para sahabat, “Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat.”

Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksnakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha. Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panic menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal it bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah SAW. Tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau SAW. Ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apapun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngmuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh prjalanan jauh.

Adakalanya, Rasulullah SAW. Juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi melainkan karena kehormatan agama Allah. Rasulullah SAW. Bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari islam).” (HR. Bukhari) Sabdanya pula, “Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Turmudzi)

Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan, maka orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seorang Hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.

Bagi orang yan gimannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah SAW. Bersabda, “Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?”

Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah SAW bersabda, “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau.” (HR. Thabrani)

Sabdanya pula, “Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk).” (HR. abu Dawud)

Cahaya hikmah, edisi 22/2008

read more “INDAHNYA MENAHAN MARAH”

Masuk Islam Karena Satu Ayat

Dokter Amerika :

Masuk Islam Karena Satu Ayathttp://swaramuslim.com/images/uploads/foto/miracle-08b.jpg

Beberapa tahun lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya soerang dokter Amerika kedalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan kailmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi sua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahi masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini disebabkan kecerobohan perawat yang nseharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut bahwa mereka berada dalam kebingungan; siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata pada dokter Muslim, “Engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an itu mencakup semua permasalah-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini…!!”

Dokter Muslim itu pun menjawab,

“Ya, Al Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan akmi akan menemukan jalan keluar.

Setelah Nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut….!!! Dokter Amerika itu pun terheran-heran dan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”

Dokter Muslim menjawab

“Sesungguhnya hasil yang Nampak menunjukkan bahwasannya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat disbanding ibu si bayi perempuan.

Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al Qur’an yang ida jadikan dasar argument dari jalan keluar itu,

“Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)

Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.

http://hasanzainuddin.files.wordpress.com/2008/05/api-lapindo-allah1.jpg

Cahaya hikmah, edisi 23/2008

read more “Masuk Islam Karena Satu Ayat”

TATAPAN CINTA


http://reekoheek.files.wordpress.com/2008/08/love.jpgTATAPAN CINTA


Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang sedang tidur. Saat itu, yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda yang saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat diwajahnya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah ke ibu anda. Hmmm…. Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomelin kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu….ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat…..semuanya orang-orang yang tercinta. Rasakn energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja Nampak besar. Secara ajaib Allah SWT mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara, dia berkata : “Betapa lelahnya aku hari ini” dan menyebab lelah itu?....... juga untuk siapa berlelah-lelah? Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita. Renungan untuk kita semua…..Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka….rasakan betapa kebahagiaan seketika membuncah jika mengingat itu semua….bayangkan apa yang akan terjadi esok hari mereka “orang-orang terkasih itu tak membuka matanya….selamanya!”

Cahaya hikmah, edisi 23/2008

read more “TATAPAN CINTA”

AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU ENAM KALI


AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU ENAM KALI

Aku masih selalu membanci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” dia mengangkat tongkat bamboo itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tanggannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, “kamu sudah belajar mencuri dirumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?... kamu layak dipukul smapai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan akmi. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menanagis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa dengan tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berasa pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, mengisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnay memberengut, “Kedua anak kita memberikan ahsil yang begitu baik…..hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau emmpunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkt, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku sebaliknya, telah memutuskan lagi utnuk meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mongering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku : “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidka bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” dia menjawab tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka piker jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.aku menyapu ndebu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidka dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah terganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidka perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu ayng pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannnya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu…” Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekrja dan…” ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu, adikku 23. aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu akan mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengaa kamu menolak menjadi amnajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidka mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar… ia baru saja jadi direktur, dan saya hamper tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah : “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku mengenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketiak saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberika satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak kuat untuk memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, orang ayng paling aku berterimaksih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Cahaya hikmah, edisi 23/2008

read more “AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU ENAM KALI”

NYARI ISTRI

NYARI ISTRI

Hmm… Tadi pagi kebetulan saya dan 2 orang kawan saya sedang survey ke Cipaku, di tengah jalan kami berhenti untuk makan siang, banyak obrolan disana, salah satunya adalah tentang memiliki istri yang baik.


Dulu, ketika belum menikah, saya belum tahu betul makna ucapan Rasulullah bahwa din-nya, keturunananya, paras wajahnya, dan hartanya. Dan Rasul menyuruh kita menikahi seseorang karena din-nya.

Sekarang saya baru menyadari sepenuhnya. Beberapa kawan halaqah saya sering tidak bisa menghadiri agenda halaqah dengan alas an istri belum bisa ditinggal sendirian dirumah, kawan saya yang lain lagi gaya hidup istrinya bergaya mewah dan sering menuntut, sehingga saya lihat suaminya sering gelisah dan suntuk.

Sementara di sisi lain, saya banyak melihat kawan-kawan saya yang bersama sama istrinya aktif mengajar anak-anak jalanan, menghadiri ta’lim dan sebagainya. Berdua bersama meninggikan syi’ar Islam.

Sungguh begitu berbeda…

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan, semoga diberkahi suami yang membangunkan istrinya untuk sholat malam, jika tidak bangun,. Dipercikkannya air kewajah istrinya, dan semoga diberkahi istri yang bangun di malam hari, lalu membangunkan suaminya, dan dipercikkannya air kewajahnya jika suaminya tidak bangun. Istri dan suami akan saling mendorong utnuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Sungguh indah keluarga seperti ini.

Sungguh indah melihat mata istri yang berbinar-binar bahagia dan haru karena bisa membahagiakan tetangganya yang kekurangan.

Tadi pagi istri saya menelpon…”bi…ada tetangga ..mau pinjam duit, bagaiman bi?” katanya. “siapa?” “itu ibunya rafli..” lalu saya bilang.. ”mi..duit kita kan tinggal 6 ribu buat belanja?” “kan ada uang recehan bi diatas vcd?” “oooo…” boleh ya bi dipinjamkan?” …”iya tidak apa-apa”… di akhiri dengna senyum bahagia.

Kemarin saya membawa makanan lebih dari kantor…jatah makan siang saya, saya berikan buat istri..lalu kebetulan kawan saya membungkuskan saya juga…ketika sampai rumah…istri saya bilang “bi…lauknya kebanyakan…mana mungkin mimi menghabiskan ini?, mimi berikan tetangga depan yang abnyak anaknya itu ya?”. “Iya… sahut saya”…Dan kaki kecilnya melompat gembira lalu bergegas memakai jilbabnya dan memberikannya ke tetangga…

Suatu ketika istri saya berujar…”bi alhamdulillah ya kita bisa kasih pak Fulan Rice Cooker, jadi dia masaknya mudah” katanya sembari tersenyum bahagia.

Entah kenapa…saya melihat istri saya begitu bahagia ketika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain…..Dan saya sangat mensyukurinya…Dan saya ingin membagi kebahagiaan itu disini.

Bahwa menikah itu indah.....Bahwa mencari istri yang shalihah dan takut pada Allah itu suatu kebutuhan kita…. Dan itu mutlak….Karena siapa lagi yang akan bersama bergandeng tangan saling menyelimuti dan memperingatkan kebaikan…kalau bukan pasangan kita…yang mau menerima, membimbing kita…kearah yang lebih baik….

InsyaAllah…..Aamiin.


Cahaya hikmah, edisi03/2006

read more “NYARI ISTRI”

BERKORBAN ITU INDAH


BERKORBAN ITU INDAH


Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga simana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak diantara daun-daun hijau yang bergoayng-goyang diterpa angina. “Apa khabar daun hijau,”!! katanya. Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yang dating. “Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?” Tanya daun hijau. “Aku hamper tidak mendapatkan dedaunan utnuk makananku”. “Bisakah engkau membantuku sobat?” kata ulat kecil. “Tentu…tentu… mendekatlah kemari.”


Daun hijau berpikir, jika aku memberiakn sedikit dari tubuhku ini untuk dimakan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan berlobang-lobang. Tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terimakasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas dating daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah, disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai “hati” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesama berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memnag tidak mudah, tapi indah.

Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memlihara kita.

Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik : kasih, pengorbana, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerengahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbana yang bisa dilakukan.

Cahaya hikmah, edisi 03/2006

read more “BERKORBAN ITU INDAH”

HATI IBARAT RUMAH


HATI IBARAT RUMAH

Ada tiga macam rumah, pertama rumah raja, didalamnya ada simpanannya, tabungan serta perhiasannya. Kedua rumah hamba, di dalamnya ada simpanan, tabungan dan perhiasan yang tidak seperti yang dimiliki seorang raja. Dan ketiga adalah rumah kosong, tidak ada isinya.


Jika datang seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya? Apabila anda menajwab, ia akan masuk ruamh kosong, tentu suatu hal yang tidak amsuk akal, karena rumah kosong tidak ada barang yang bias dicurinya.

Karena dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam shalat, mereka “tidak pernah terganggu”, Maka Ibnu Abbas berkata : “Apakah yang bias dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang dusah rusak?”

Bila jawaban anda adalah pencuri : “pencuri itu akan amsuk rumah raja.” Hal tersebut bagaikan sesuatu yang hamper mustahil, karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak bias mendekatinya.

Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara senantiasa siap siaga di sekitar raja?

Sekarang tinggal rumah ketiga, maka hendaklah orang-orang berakal memperhatiakn permisalan ini sebaik-baiknya, dan menganalogikannya (rumah) dengan hati, karena inilah yang dimaksudkannya.

Hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, adalah rumah setan, yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah rangsangan untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanannya dan gangguannya? (rumah ketiga).

Hati yang telah dipenuhi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keagungan-Nya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya dan selalu malu darinya, syetan mana yang berani memasuki hati ini? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu darinya, apakah yang akan dicurinya? (rumah pertama).

Hati yang di dalamnya ada tauhid Allah, mengerti tentang Allah, mencintaiNya, dan beriman kepadaNya, serta membenarkan janjiNya, namun di dalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu, dan tabiat tidak baik. Hati ini ada diantara dua ahl. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma’rifat dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu, dan tabiat tercela. (ruamh kedua)

Hati semacam inilah yang dicari oleh syetan dan diinginkannya. Dan Allah memberikan pertolongan-Nya keapda yang dikehendakiNya. “Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi maha bijaksana.” (Ali Imran : 126)

Syetan tidak bisa mengganggunya kecuali dengan senjata yang dimilikinya, yang dengannya ia masuk dalam hati. Di dalam hati seperti ini syetan mendapati senjata-senjatanya yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta yang berada di dalam hati.

Saat memasukinya, syetan mendpatkan senjata-senjata tersebut dan mengambilnya serta menjadikannya menetap di hati. Apabila seorang ahmba mempunyai benteng keimanan yang mengimbangi serangan tersebut, dan kekuatanny melebihi kekuatan penyerangnya, maka ia akan mampu mengalahkan syetan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.


cahaya hikmah, edisi 06/2007


read more “HATI IBARAT RUMAH”

cahaya renungan


Berubah Menjadi Himar

Dalam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia leka melihat seorang pemuda yang asyik membaca salawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan shalawat ke atas Nabi. “Hai saudara,” tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. “Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan sholat sedangkan itu lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca solawat saja.”

“Saya ada alasan tersendiri,” jawab pemuda itu.” Saya meninggalkan Khurasan, tanah air saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mau memberitahu orang tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu bodoh sekali?

“Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata, “Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?” “Maka saya menjawab, “Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?”

“Pemuda itu pun mendekati ayah dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama. “Engkau siapa?” tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu. “Saya yang terpilih (Muhammad).”

“Saya lantas memegang jarinya dan berkata, “Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini bisa terjadi?” Rahasia selawat 100 kali “Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Allah telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Allah telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat.”

Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan selawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Allah agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu.”

cahaya hikmah, edisi 30/2009

read more “cahaya renungan”

telaga hati

TELAGA HATI

Suatu ketika, hiduplah seorang tua bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda ayng sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan sumua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.

Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkan garam itu kedalam gelas, lalu diaduk perlahan. “coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar pak tua itu. “asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Baliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal beliau. Sesampai di tepi telaga, pak tua menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat pemuda itu selesai merengguk air itu, beliau bertanya, “bagaimana rasanya?” “segar,” sahut sang pemuda. “apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya beliau lagi. “tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut pak tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air ayng aku rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakn dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bias kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima samuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Beliau melanjutkan nasehatnya. “hatimu adalah wadah itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”



cahaya hikmah, edisi05/2007

read more “telaga hati”

manusia

Jibril AS, kerbau, kelelawar, dan cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS untuk pergi menemui salah satu mahlukNya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di air sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “Hai kerbau apakah kamu senang setelah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau.” Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, daripada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang mandi dengan kencingnya sendiri.” Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.

Malaikat Jibril AS mendatangi seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah gua. Kemudian mulai bertanya pada si kelelawar, “Hai kelelawar apakah kamu senang setelah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar.” “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar daripada aku dijadikan-Nya seekor cacing.” Jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

Malaikat Jibril AS bertanya kepada sic acing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing.” Si cacing menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, daripada aku dijadikan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati akan disiksa selama-lamanya.”

“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri ia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil

Sementara,

Orang ayng mau memikirkan orang lain ia akan hidup sebagai orang besar”

Cahaya hikmah, edisi 06/2007

read more “manusia”

SEMUT DAN LALAT

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tonga sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya.

Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu Nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai mengigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalt ini, Pak? Mengapa dia sekarat?”

“Oh…., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelalahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi,” Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.”

Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil berbeda, maka nasib kamu akan seperti allat ini.”

“para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukan cara yang berbeda.”


cahaya hikmah, edisi 22/2008


read more “SEMUT DAN LALAT”

KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA

KISAH 3 PEMUDA DI DALAM GUA


Ketika tiga orang pemuda sedang berpergian, mereka tertahan oleh hujan dan berlindung di dalam gua di sebuah gunung. Sebongkah besar batu jatuh dari gunung melewati mulut gua tersebut dan menutupinya. Mereka berkata satu sama lain,
Pikirkanlah perbuatan baik yang pernah engkau lakukan di jalan allah, dan berdo’alah kepada Allah dengan menyertakan perbuatan-perbuatan itu sehingga Allah akan membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi.


Salah satu di antara mereka berkata, Ya Allah! Aku memiliki kedua orangtua yang telah tua renta, dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil yang aku telah memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput ( bagi domba-dombaku ), dan tidak kembali kerumah hingga larut malam dan menemukan kedua orang tuaku sedang tidur. Aku mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka, dan aku pun tidak ingin membangunkan mereka dari ridurnya, dan aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orang tuaku, walaupun anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku.

Maka keaadanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. (Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolonglah bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit. Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.

Kemudian pemuda yang kedua berkata, Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak hingga aku membayarnya hingga seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk diantara kedua kakinya, ia berkata : Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)! Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi engkau semata, maka biarkanlah batu tersebut bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar. Maka Allah menggeser batu tersebut untuk menjadi lubang yang lebih besar.

Dan pemuda yang terakhir (ketiga) berkata, Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu Faraq beras, dan ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah, tetapi ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menyerah dan menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga produksi, beberapa ekor sapi, dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata : (Wahai hamba Allah!) takutlah kepada Allah, dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku. Aku berkata (padanya): Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya. Maka ia pun mengambilnya dan pergi. (Maka, Ya Allah!) Apabila engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari abtu tersebut.

Maka kemudian Allah membebaskan mereka (dari kesulitannya) dan seluruhnya dari mulut gua tersebut.

Cahaya hikmah, edisi 07/2007

ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI

ORANG BAIK DAN ORANG DENGKI

Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu raja, ia selalu berkata, ”orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”


Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja. ”Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia bertemu raja,” pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang. Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, ”Lelaki yang setiap hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tantang kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk.” Raja terdiam.

Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, ”Kemarilah, singgahlah kerumahku.”

Setelah temannya singgah kerumahnya, si pendengki menawarkan bawang merah dan bawang putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa, ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau bawang merah dan bawang putih itu tentu tidak mudah hilang.

Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan dengan raja, ia menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya. ”Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggqap mulutku bau,” pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat. Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.”

Setelah merasa waktu berkunjungnya cukup, ia kemudian pamit kepada raja. Raja berkata, ”Bawalah surat ini dan serahkanlah pada fulan.” Surat itu berisi, ”Jika sampai kepadamu pembawa surat ini, maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan jerami.”

Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang oleh si pendengki.

”Apa yang kamu bawa?” tanyanya. ”Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali dalam urusan pembagian hadiah.” ”Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang,” pintanya.

Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasiha, surat itu kemudian di serahkan kepada si pendengki. Si pendengki menerimanya dengan senag hati. Setelah sampai di tempat tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja. ”Masuklah kesini, raja menyuruhku membunuhmu,” kata teman raja. ”Yang dimaksudkan bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan,” katanya ketakutan. ”Perintah raja tak bisa ditunda,” kata teman raja. Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan jerami.

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan berkata, ”Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya.” Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah keburukan si pendengki.

”Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak mencium bau tidak sedap dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia menemuiku dan menanyakan titipanmu,” kemudian lelaki itu menceritakan semua yang terjadi.

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu dengki kepada sahabatnay. ”Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan iru sebagai balasannya.”

Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri. Dengki itu merusak amal Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar. (HR Ibnu Majah)

Kedengkian seseorang hanya akan berakinat buruk bagi orang itu sendiri.

Cahaya hikmah, edisi 07/2007

Bukan Dua Kaki


Bukan Dua Kaki

Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panic. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al-Quds. Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.

Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas pasti actual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustadz Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatic terhadap satu pendapat tertentu.

“Shofa belum pulang?” sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar. Shofamenoleh, “Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak.” “Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya pentingtuh!”

“Sekarang Bu?”

“Ya, kalau Shofa sedang tidak repot.”

Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Raif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan dikompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah.

“Assalamu’alaikum,” ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan. “Wa’alaikum salam,” jawab Pak Arif dari dalam. “Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?”

“Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan.” Jawab Shofa. “Bagus! Bagus! Alhamdulillah.” Kata Pak Arif. “Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain”

Pak arif terdiam. “Begini nak Shofa……. Apakah nak Shofa sudah siap menikah?”

Shofa tersenyum. “Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi…… belum ada jodohnya.” “Hmmmm…… Begitu ya,” Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. “Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia.”

“Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?” Tanya Shofa tersipu.

“Lho…. Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang shalehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia shaleh dan berakhlak baik. Nah…. Kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?” jelas Pak Arif.

“Iya…. Iya!” Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.

“Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan Shofa,” Pak Arif melanjutkan. “Bagaimana nak Shofa?”

“Bapak ini kok langsung main Tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana,”tukas Bu Arif

“Wah…….Dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur’an.”

“Hafidz Qur’an?” gumam Shofa dalam hati. Salah satu do’a yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur’an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi Hafidzhah. “Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds,” papar Pak Arif. “Radio Al-Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho pak. Namanya siapa pak,mungkin saja saya pernah mendengar, :kata Shofa. “Namanya Hanif Ibrahim.”

Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempatdirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausiyah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.

Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. “Ada apa Shofa?” “Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio.”

“Nah…. Jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun Cuma dari radio, “Pak Arif terkekeh. “Bagaimana, kapan nak Shofa siap bertemu Hanif?” “Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini,” jawab Shofa. “Ohhh….. ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah ibumu bilang, kami disuruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok,” ujar Pak Arif.

Sepulangnya dari rumah kedua orangtua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. “Benarkah Ustadz Hanif jodohku?” tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat.

Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.

“Assalamu’alaikum,” Shofa mengucap salam di depan pintu. “Wa’alaikumussalam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif,” jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri shalehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.

Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena terbentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda sambil tersenyum. Shofa terhenyak, memandang tak percaya. “Inilah Ustadz Hanif?” Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri.

“Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu,” kata Pak Arif memecah kesunyian.

“Assalamu’alaikum dik Shofa,” kata Hanif. “Wa’alaikumssalam,” jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.

“Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma….. memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan.. mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi.

Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja.” Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.

Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas kea rah Hanif. “Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya.” Bathin Shofa.

“Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri.”

Shofa diam tak bergeming. Di hadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, shaleh, berakhalak muloia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur’an. Bukanlah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.

“Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?” Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.

Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan batinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. “Saya sudah shalat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan ustadz Hanif.” “Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab,” kata Hanif.

“Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?” Tanya Shofa. Hanif tersenyum. “Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah, dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik.” Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar. “Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki.” “Alhamdulillah!” berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.

Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati.

Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, “Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami.”

Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. “Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?” Tanya Shofa.

“Boleh. Apa itu?” Hanif tersenyum lebar. “Shofa cinta Kak Hanif karena Allah,” Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.

“Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah.” Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. “Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!” Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.

“Ayo kita shalat dulu,” kata Hanif. “Shofa Bantu kak Hanif wudhu ya,” Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.

Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaanNya.

Terinspirasi dari Syekh Ahmad Yasin yang tetap berjihad dari kursi roda hingga syahidnya.

Cahaya Hikmah, edisi 22/2008

INDAHNYA MENAHAN MARAH


INDAHNYA MENAHAN MARAH

“Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.”

(HR. Abu Dawud At-Tirmidzi)

Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan mana’wiyah (keimanan) seseorang.

Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada. Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi SAW. Dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, “Aku berbuat baik padamu. “Badwi itu berkata, “Pemberianmu tidak bagus.” Para sahabat merasa tersinggung lalu ngerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar. Kemudian, Nabi SAW. Pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, “Aku berbuat baik padamu?” Badwi berkata, “Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat.”

Keesokan harinya, Rasulullah SAW. Bersabda kepada para sahabat, “Nah, kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat.”

Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksnakan tugas penting yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya dengan taat dan ridha. Rasulullah SAW memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak panic menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal it bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah SAW. Tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, beliau SAW. Ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada harta benda apapun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngmuk. Tentu saja, unta yang telah mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk menempuh prjalanan jauh.

Adakalanya, Rasulullah SAW. Juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi melainkan karena kehormatan agama Allah. Rasulullah SAW. Bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan memeranginya adalah kufur (keluar dari islam).” (HR. Bukhari) Sabdanya pula, “Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.” (HR. Turmudzi)

Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan, maka orang seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seorang Hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya.

Bagi orang yan gimannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah SAW. Bersabda, “Apakah tiada lebih baik saya beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?”

Para sahabat menjawab, “Baik, ya Rasulullah SAW bersabda, “Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau.” (HR. Thabrani)

Sabdanya pula, “Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk).” (HR. abu Dawud)

Cahaya hikmah, edisi 22/2008

Masuk Islam Karena Satu Ayat

Dokter Amerika :

Masuk Islam Karena Satu Ayathttp://swaramuslim.com/images/uploads/foto/miracle-08b.jpg

Beberapa tahun lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya soerang dokter Amerika kedalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah : Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan kailmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi sua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahi masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini disebabkan kecerobohan perawat yang nseharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut bahwa mereka berada dalam kebingungan; siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata pada dokter Muslim, “Engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasannya Al Qur’an itu mencakup semua permasalah-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini…!!”

Dokter Muslim itu pun menjawab,

“Ya, Al Qur’an telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan akmi akan menemukan jalan keluar.

Setelah Nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut….!!! Dokter Amerika itu pun terheran-heran dan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”

Dokter Muslim menjawab

“Sesungguhnya hasil yang Nampak menunjukkan bahwasannya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibanding ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada ASI si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat disbanding ibu si bayi perempuan.

Kemudian dokter muslim tersebut membacakan ayat Al Qur’an yang ida jadikan dasar argument dari jalan keluar itu,

“Bagi laki-laki seperti bagian dua perempuan.” (QS. An-Nisa:11)

Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu-ragu. Subhanallah, Maha Suci Allah Robb semesta alam.

http://hasanzainuddin.files.wordpress.com/2008/05/api-lapindo-allah1.jpg

Cahaya hikmah, edisi 23/2008

TATAPAN CINTA


http://reekoheek.files.wordpress.com/2008/08/love.jpgTATAPAN CINTA


Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia tidur? Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang sedang tidur. Saat itu, yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika tidur, sudah tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda yang saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat diwajahnya. Orang inilah yang rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar. Sekarang, beralihlah ke ibu anda. Hmmm…. Kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena terpaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomelin kita, semata-mata karena rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah artikan.Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu….ayah, ibu, suami, istri, kakak, adik, anak, sahabat…..semuanya orang-orang yang tercinta. Rasakn energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah di lakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selalu saja Nampak besar. Secara ajaib Allah SWT mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya, tanpa kata, tanpa suara, dia berkata : “Betapa lelahnya aku hari ini” dan menyebab lelah itu?....... juga untuk siapa berlelah-lelah? Tak lain adalah suami yang bekerja keras mencari nafkah dan istri yang bekerja mengurus, mendidik juga mengurus rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita. Renungan untuk kita semua…..Resapilah kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka….rasakan betapa kebahagiaan seketika membuncah jika mengingat itu semua….bayangkan apa yang akan terjadi esok hari mereka “orang-orang terkasih itu tak membuka matanya….selamanya!”

Cahaya hikmah, edisi 23/2008

AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU ENAM KALI


AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU ENAM KALI

Aku masih selalu membanci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Aku dilahirkan disebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” dia mengangkat tongkat bamboo itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tanggannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, “kamu sudah belajar mencuri dirumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?... kamu layak dipukul smapai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan akmi. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menanagis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa dengan tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berasa pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, mengisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnay memberengut, “Kedua anak kita memberikan ahsil yang begitu baik…..hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau emmpunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkt, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku sebaliknya, telah memutuskan lagi utnuk meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mongering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku : “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.” Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidka bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” dia menjawab tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka piker jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.aku menyapu ndebu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak peduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidka dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah terganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidka perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu ayng pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannnya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu…” Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekrja dan…” ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun kewajahku. Tahun itu, adikku 23. aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu akan mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengaa kamu menolak menjadi amnajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidka mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar… ia baru saja jadi direktur, dan saya hamper tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah : “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku mengenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketiak saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberika satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak kuat untuk memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, orang ayng paling aku berterimaksih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.


Cahaya hikmah, edisi 23/2008

NYARI ISTRI

NYARI ISTRI

Hmm… Tadi pagi kebetulan saya dan 2 orang kawan saya sedang survey ke Cipaku, di tengah jalan kami berhenti untuk makan siang, banyak obrolan disana, salah satunya adalah tentang memiliki istri yang baik.


Dulu, ketika belum menikah, saya belum tahu betul makna ucapan Rasulullah bahwa din-nya, keturunananya, paras wajahnya, dan hartanya. Dan Rasul menyuruh kita menikahi seseorang karena din-nya.

Sekarang saya baru menyadari sepenuhnya. Beberapa kawan halaqah saya sering tidak bisa menghadiri agenda halaqah dengan alas an istri belum bisa ditinggal sendirian dirumah, kawan saya yang lain lagi gaya hidup istrinya bergaya mewah dan sering menuntut, sehingga saya lihat suaminya sering gelisah dan suntuk.

Sementara di sisi lain, saya banyak melihat kawan-kawan saya yang bersama sama istrinya aktif mengajar anak-anak jalanan, menghadiri ta’lim dan sebagainya. Berdua bersama meninggikan syi’ar Islam.

Sungguh begitu berbeda…

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan, semoga diberkahi suami yang membangunkan istrinya untuk sholat malam, jika tidak bangun,. Dipercikkannya air kewajah istrinya, dan semoga diberkahi istri yang bangun di malam hari, lalu membangunkan suaminya, dan dipercikkannya air kewajahnya jika suaminya tidak bangun. Istri dan suami akan saling mendorong utnuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Sungguh indah keluarga seperti ini.

Sungguh indah melihat mata istri yang berbinar-binar bahagia dan haru karena bisa membahagiakan tetangganya yang kekurangan.

Tadi pagi istri saya menelpon…”bi…ada tetangga ..mau pinjam duit, bagaiman bi?” katanya. “siapa?” “itu ibunya rafli..” lalu saya bilang.. ”mi..duit kita kan tinggal 6 ribu buat belanja?” “kan ada uang recehan bi diatas vcd?” “oooo…” boleh ya bi dipinjamkan?” …”iya tidak apa-apa”… di akhiri dengna senyum bahagia.

Kemarin saya membawa makanan lebih dari kantor…jatah makan siang saya, saya berikan buat istri..lalu kebetulan kawan saya membungkuskan saya juga…ketika sampai rumah…istri saya bilang “bi…lauknya kebanyakan…mana mungkin mimi menghabiskan ini?, mimi berikan tetangga depan yang abnyak anaknya itu ya?”. “Iya… sahut saya”…Dan kaki kecilnya melompat gembira lalu bergegas memakai jilbabnya dan memberikannya ke tetangga…

Suatu ketika istri saya berujar…”bi alhamdulillah ya kita bisa kasih pak Fulan Rice Cooker, jadi dia masaknya mudah” katanya sembari tersenyum bahagia.

Entah kenapa…saya melihat istri saya begitu bahagia ketika bisa memberikan sesuatu kepada orang lain…..Dan saya sangat mensyukurinya…Dan saya ingin membagi kebahagiaan itu disini.

Bahwa menikah itu indah.....Bahwa mencari istri yang shalihah dan takut pada Allah itu suatu kebutuhan kita…. Dan itu mutlak….Karena siapa lagi yang akan bersama bergandeng tangan saling menyelimuti dan memperingatkan kebaikan…kalau bukan pasangan kita…yang mau menerima, membimbing kita…kearah yang lebih baik….

InsyaAllah…..Aamiin.


Cahaya hikmah, edisi03/2006

BERKORBAN ITU INDAH


BERKORBAN ITU INDAH


Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga simana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak diantara daun-daun hijau yang bergoayng-goyang diterpa angina. “Apa khabar daun hijau,”!! katanya. Tersentak daun hijau menoleh kearah suara yang dating. “Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?” Tanya daun hijau. “Aku hamper tidak mendapatkan dedaunan utnuk makananku”. “Bisakah engkau membantuku sobat?” kata ulat kecil. “Tentu…tentu… mendekatlah kemari.”


Daun hijau berpikir, jika aku memberiakn sedikit dari tubuhku ini untuk dimakan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan berlobang-lobang. Tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terimakasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas dating daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah, disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai “hati” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesama berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memnag tidak mudah, tapi indah.

Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memlihara kita.

Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik : kasih, pengorbana, pengertian, kesetiaan, kesabaran, dan kerengahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbana yang bisa dilakukan.

Cahaya hikmah, edisi 03/2006

HATI IBARAT RUMAH


HATI IBARAT RUMAH

Ada tiga macam rumah, pertama rumah raja, didalamnya ada simpanannya, tabungan serta perhiasannya. Kedua rumah hamba, di dalamnya ada simpanan, tabungan dan perhiasan yang tidak seperti yang dimiliki seorang raja. Dan ketiga adalah rumah kosong, tidak ada isinya.


Jika datang seorang pencuri, rumah mana yang akan dimasukinya? Apabila anda menajwab, ia akan masuk ruamh kosong, tentu suatu hal yang tidak amsuk akal, karena rumah kosong tidak ada barang yang bias dicurinya.

Karena dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, bahwa ada orang-orang Yahudi mengklaim bahwa di dalam shalat, mereka “tidak pernah terganggu”, Maka Ibnu Abbas berkata : “Apakah yang bias dikerjakan oleh syetan dalam rumah yang dusah rusak?”

Bila jawaban anda adalah pencuri : “pencuri itu akan amsuk rumah raja.” Hal tersebut bagaikan sesuatu yang hamper mustahil, karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak bias mendekatinya.

Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara senantiasa siap siaga di sekitar raja?

Sekarang tinggal rumah ketiga, maka hendaklah orang-orang berakal memperhatiakn permisalan ini sebaik-baiknya, dan menganalogikannya (rumah) dengan hati, karena inilah yang dimaksudkannya.

Hati yang kosong dari kebajikan, yaitu hati orang-orang kafir dan munafik, adalah rumah setan, yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah rangsangan untuk mencuri dari rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanannya dan gangguannya? (rumah ketiga).

Hati yang telah dipenuhi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keagungan-Nya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya dan selalu malu darinya, syetan mana yang berani memasuki hati ini? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu darinya, apakah yang akan dicurinya? (rumah pertama).

Hati yang di dalamnya ada tauhid Allah, mengerti tentang Allah, mencintaiNya, dan beriman kepadaNya, serta membenarkan janjiNya, namun di dalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu, dan tabiat tidak baik. Hati ini ada diantara dua ahl. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma’rifat dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu, dan tabiat tercela. (ruamh kedua)

Hati semacam inilah yang dicari oleh syetan dan diinginkannya. Dan Allah memberikan pertolongan-Nya keapda yang dikehendakiNya. “Dan kemenanganmu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi maha bijaksana.” (Ali Imran : 126)

Syetan tidak bisa mengganggunya kecuali dengan senjata yang dimilikinya, yang dengannya ia masuk dalam hati. Di dalam hati seperti ini syetan mendapati senjata-senjatanya yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta yang berada di dalam hati.

Saat memasukinya, syetan mendpatkan senjata-senjata tersebut dan mengambilnya serta menjadikannya menetap di hati. Apabila seorang ahmba mempunyai benteng keimanan yang mengimbangi serangan tersebut, dan kekuatanny melebihi kekuatan penyerangnya, maka ia akan mampu mengalahkan syetan. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata.


cahaya hikmah, edisi 06/2007


cahaya renungan


Berubah Menjadi Himar

Dalam terik panas mentari yang memancar menyinari tanah Baitul Haram, seorang ulama zuhud yang bernama Muhammad Abdullah al-Mubarak keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji. Di sana dia leka melihat seorang pemuda yang asyik membaca salawat dalam keadaan ihram. Malah di Padang Arafah dan Mina pemuda tersebut hanya membasahkan lidahnya dengan shalawat ke atas Nabi. “Hai saudara,” tegur Abdullah kepada pemuda tersebut. “Setiap tempat ada bacaannya tersendiri. Kenapa saudara tidak membanyakkan doa dan sholat sedangkan itu lebih dituntut? Saya lihat saudara asyik membaca solawat saja.”

“Saya ada alasan tersendiri,” jawab pemuda itu.” Saya meninggalkan Khurasan, tanah air saya untuk menunaikan haji bersama ayah saya. Apabila kami sampai di Kufah, tiba-tiba ayah saya sakit kuat. Dia telah menghembuskan nafas terakhir di hadapan saya sendiri. Dengan kain sarung yang ada, saya tutup mukanya. Malangnya, apabila saya membuka semula kain tersebut, rupa ayah saya telah bertukar menjadi himar. Saya malu. Bagaimana saya mau memberitahu orang tentang kematian ayah saya sedangkan wajahnya begitu bodoh sekali?

“Saya terduduk di sisi mayat ayah saya dalam keadaan kebingungan. Akhirnya saya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu saya melihat seorang pemuda yang tampan dan baik akhlaknya. Pemuda itu memakai tutup muka. Dia lantas membuka penutup mukanya apabila melihat saya dan berkata, “Mengapa kamu susah hati dengan apa yang telah berlaku?” “Maka saya menjawab, “Bagaimana saya tidak susah hati sedangkan dialah orang yang paling saya sayangi?”

“Pemuda itu pun mendekati ayah dan mengusap wajahnya sehingga ayah saya berubah wajahnya menjadi seperti sediakala. Saya segera mendekati ayah dan melihat ada cahaya dari wajahnya seperti bulan yang baru terbit pada malam bulan purnama. “Engkau siapa?” tanya saya kepada pemuda yang baik hati itu. “Saya yang terpilih (Muhammad).”

“Saya lantas memegang jarinya dan berkata, “Wahai tuan, beritahulah saya, mengapa peristiwa ini bisa terjadi?” Rahasia selawat 100 kali “Sebenarnya ayahmu seorang pemakan harta riba. Allah telah menetapkan agar orang yang memakan harta riba akan ditukar wajahnya menjadi himar di dunia dan di akhirat. Allah telah menjatuhkan hukuman itu di dunia dan tidak di akhirat.”

Semasa hayatnya juga ayahmu seorang yang istiqamah mengamalkan selawat sebanyak seratus kali sebelum tidur. Maka ketika semua amalan umatku ditontonkan, malaikat telah memberi tahu keadaan ayahmu kepadaku. Aku telah memohon kepada Allah agar Dia mengizinkan aku memberi syafaat kepada ayahmu. Dan inilah aku datang untuk memulihkan semula keadaan ayahmu.”

cahaya hikmah, edisi 30/2009

telaga hati

TELAGA HATI

Suatu ketika, hiduplah seorang tua bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda ayng sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan sumua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.

Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkan garam itu kedalam gelas, lalu diaduk perlahan. “coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar pak tua itu. “asin. Asin sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Baliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal beliau. Sesampai di tepi telaga, pak tua menaburkan segenggam garam kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. “coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat pemuda itu selesai merengguk air itu, beliau bertanya, “bagaimana rasanya?” “segar,” sahut sang pemuda. “apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?” Tanya beliau lagi. “tidak,” jawab si anak muda. Dengan lembut pak tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. “anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air ayng aku rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakn dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bias kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima samuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Beliau melanjutkan nasehatnya. “hatimu adalah wadah itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”



cahaya hikmah, edisi05/2007

manusia

Jibril AS, kerbau, kelelawar, dan cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibril AS untuk pergi menemui salah satu mahlukNya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si kerbau.

Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di air sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “Hai kerbau apakah kamu senang setelah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau.” Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, daripada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang mandi dengan kencingnya sendiri.” Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.

Malaikat Jibril AS mendatangi seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah gua. Kemudian mulai bertanya pada si kelelawar, “Hai kelelawar apakah kamu senang setelah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar.” “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar daripada aku dijadikan-Nya seekor cacing.” Jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.

Malaikat Jibril AS bertanya kepada sic acing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing.” Si cacing menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, daripada aku dijadikan-Nya aku sebagai seorang manusia. Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal soleh ketika mereka mati akan disiksa selama-lamanya.”

“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri ia akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil

Sementara,

Orang ayng mau memikirkan orang lain ia akan hidup sebagai orang besar”

Cahaya hikmah, edisi 06/2007

SEMUT DAN LALAT

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tonga sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya.

Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu Nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai mengigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalt ini, Pak? Mengapa dia sekarat?”

“Oh…., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelalahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi,” Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.”

Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil berbeda, maka nasib kamu akan seperti allat ini.”

“para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukan cara yang berbeda.”


cahaya hikmah, edisi 22/2008


[X]

comment here...


ShoutMix chat widget

chat room

About Me

My photo
Blitar, Jawa Timur, Indonesia
A HEART dies when it is not able to share its FEELINGS.., but a HEART Kills itself when another Heart doesnot Understand its Feelings...

Followers

Plurk